Jumat, 05 April 2019

Pendidikan ala Pesantren?


Pendidikan ala Pesantren?

Pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk menciptakan sebuah peradaban. Di dalam pendidikan inilah cara pandang seseorang dalam melihat sesuatu akan dibentuk hingga menciptakan suatu perilaku dan kebiasaan dalam masyarakat dan akhirnya tercipta suatu kebudayaan yang bermuara pada peradaban. Apabila kita meneliti dan menganalisa tentang bobrok dan rusaknya suatu generasi, maka yang pasti menjadi titik permasalahan utama adalah pola pendidikan yang salah. Pola pendidikan yang salah akan berimbas pada rusaknya moral dan generasi suatu bangsa. Hal ini bisa kita buktikan dengan menelaah kembali latar belakang munculnya zaman kegelapan di Eropa pada abad pertengahan. Pada saat itu, ilmu pengetahuan dan intelektual mengalami kemunduran akibat keberadaan sikap fanatisme buta yang terlalu kuat dalam mempengaruhi pola pikir masyarakat pada waktu itu. Pendidikan yang diberikan kepada warganya bersifat fanatis buta sehingga tertutup terhadap pengembangan dan sangat menghambat kemajuan.
Pendidikan di Indonesia sendiri menurut saya masih bisa dibilang belum maksimal. Tentunya ada alasan kenapa saya berasumsi seperti itu. Yang paling utama penyebab saya berasumsi seperti itu adalah hasil produk pendidikan kita yang minim integritas. Berapa banyak lulusan perguruan tinggi ternama yang tersandung dalam kasus korupsi. Kaum-kaum berdasi pengenyam pendidikan tinggi di bangsa ini merupakan tersangka utama kenapa uang rakyat yang seharusnya menjadi menjadi modal untuk pengembangan pendidikan, ekonomi serta segala sesuatu yang bisa dirasakan manfaatnya bagi rakyat "ludes" dicuri oleh segelintir orang yang kita anggap mempunyai kecerdasan tinggi. Permasalahan korupsi yang seakan-akan tidak ada habisnya ini menurut saya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pola pendidikan kita selama ini mempunyai masalah yang cukup serius.
Berangkat dari permasalahan diatas, saya rasa solusi dari itu semua adalah perbaikan dalam hal pendidikan. Kurikulum pendidikan telah bergonta-ganti dan terus dicari formulasi terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita tetapi belum ada yang dipastikan bisa mengubah mindset bangsa ini dalam membentuk karakter bangsa yang berintegritas dan anti KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Sesungguhnya sederhana menurut saya untuk bisa mengubah karakter bangsa ini menjadi bangsa yang berintegritas. Menukil pendapat dari Imam Ghazali di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin tentang penyebab rusaknya rakyat di suatu bangsa, beliau menuliskan bahwa penyebab rusaknya rakyat adalah disebabkan karena rusaknya penguasa, penyebab rusaknya penguasa adalah disebabkan karena rusaknya cendekiawan dan para kaum intelektual, karena seandainya bila kaum cendekiawan dan para intelektual itu baik, maka bisa dipastikan penguasanya akan baik juga karena mereka akan takut akan pengingkaran dari para cendekiwan dan intelektual tersebut karena tidak bisa dipungkiri kaum cendekia dan intelektual mempunyai pengaruh di mata masyarakat dan bisa menggerakkan rakyat apabila mereka menyatakan suatu pernyataan yang tidak pro terhadap penguasa. Dan penyebab rusaknya kaum intelektual dan cendekiawan adalah disebabkan karena cinta akan harta dan kedudukan duniawi. Apabila kita mau meneliti lebih jauh, cinta akan harta dan kedudukan duniawi hanya bisa hilang dengan nilai kezuhudan yang hanya bisa didapat melalui pendidikan yang tepat dan baik. Dari pendapat Imam Ghazali diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa penyebab dari rusaknya rakyat dan bangsa ini adalah karena sistem pendidikan kita yang belum tepat dan baik.
Berbicara mengenai peradaban dan pendidikan, maka saya tertarik dengan tema Pesantren. Menurut pendapat saya, pendidikan ala Pesantren merupakan pendidikan terbaik sejauh ini. Ada lima kelebihan Pendidikan ala Pesantren apabila saya membaca di buku biografi singkat K.H. Hasyim Asy'ari yang ditulis oleh Muhammad Rifa'i.
1. Sistem pemondokan (pengasramaan) yang memungkinkan pengawasan secara intensif dari guru ke murid.
Di dalam pesantren kita mengetahui bahwa ada sistem yang dinamakan "Pemondokan" yang mengharuskan murid untuk tinggal dan berkegiatan penuh dalam hal apapun itu di lingkungan pesantren. Hal ini bisa berdampak pada pemaksimalan dalam hal mentransfer nilai-nilai kebaikan yang ingin dimasukkan ke dalam diri dan karakter murid. Karena dengan sistem ini murid diharuskan untuk tinggal selingkungan dengan gurunya sehingga murid bisa mencontoh dan meneladani nilai-nilai kebaikan yang ada di dalam diri sang guru dengan melihat secara langsung bagaimana sang guru menjalani kehidupannya sehari-hari. Tidak hanya itu, guru juga bisa dengan mudah mengawasi para muridnya.
2. Keakraban para murid dan guru yang sangat kondusif bagi pemerolehan ilmu pengetahuan.
Dalam kultur Pesantren, guru dan murid akan membentuk suatu lingkungan yang kondusif bagi sistem pembelajaran dan transfer ilmu pengetahuan karena adanya budaya ta'dzim (menghormati) dari murid ke sang guru sehingga tidak akan mungkin seorang murid berani dan bertindak tidak sopan kepada gurunya dalam hal apapun. Begitu juga sebaliknya, guru akan menyayangi dan mencintai muridnya dengan sepenuh hati. Hal ini dibuktikan dengan adanya budaya yang terbentuk di lingkungan pesantren berupa guru yang selalu mendoakan kesuksesan murid-muridnya sehingga terciptalah pertalian batin yang kuat dari sang guru ke murid.
3. Kemampuan pesantren dalam mencetak lulusan yang memiliki kemandirian.
Berbeda dengan pendidikan non-pesantren yang dalam hal identifikasi apakah murid itu bisa di cap sebagai murid yang berprestasi atau tidak berprestasi dan dinyatakan naik kelas atau tidak naik kelas maka murid tersebut diharuskan mendapat nilai yang tinggi sehingga bisa mengalahkan teman-temannya dalam hal akademik dan bisa mempertahankan nilainya untuk bisa naik kelas yang hanya beracuan pada angka semata. Sehingga hal ini bisa memicu persaingan yang tidak sehat diantara para murid dan besar kemungkinan untuk para murid tersebut melakukan kecurangan-kecurangan agar bisa mendapat nilai setinggi-tingginya demi tuntutan naik kelas atau ingin mendapat prestasi peringkat tertinggi. Hal ini mengajarkan pada diri murid untuk menghalalkan segala cara dalam hal menggapai sesuatu dan juga mengajarkan akan cinta kedudukan dan selalu mengidam-idamkan sanjungan karena prestise yang dia dapat apabila bisa meraih peringkat tertinggi di kelas. Selain itu, sistem pendidikan seperti ini akan menjatuhkan mental teman-temannya yang mendapatkan nilai pas-pasan karena selalu minder dan merasa inferior sehingga bisa mematikan potensi terpendam dari murid. Di dalam pesantren, sistem ranking seperti ini tidak akan mungkin terjadi karena apabila dia berprinsip pada nilai-nilai keislaman, maka yang dinilai dari setiap murid bukan angka tetapi bagaimana pengembangan dirinya di dalam pesantren. Dalam hal bagaimana cara menilai murid itu berprestasi atau bukan, maka yang dilihat bukanlah angka, tetapi bagaimana dia ketika lulus nanti terjun ke masyarakat. Apakah murid tersebut bisa membawa perubahan ke arah kebaikan atau tidak. Ketika murid itu lulus dan pada waktu terjun ke masyarakat membawa dampak kebaikan yang dapat dirasakan oleh banyak orang, maka disitulah murid itu baru bisa dibilang berprestasi. Hal inilah yang menyebabkan lulusan pesantren memiliki kemandirian dan bisa berdampak bagi kemajuan di masyarakat.
4. Keserhanaan pola hidup di dalam pesantren
Di dalam pesantren, pola hidup sederhana merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Selain karena untuk menghemat pengeluaran, uang sisa biaya hidup bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat lainnya sehingga lebih efisien. Hal ini juga sengaja dibentuk untuk melatih murid agar tidak hidup dengan gaya hedonisme sehingga sesuai dengan ulasan yang sudah kita bahas diatas yaitu penyebab utama rusaknya rakyat adalah kecintaan kepada harta dan kedudukan duniawi.
5. Murahnya biaya penyelenggaraan pendidikan pesantren.
Karena poin keempat yang sudah kita bahas di atas, maka bisa dibilang untuk menyelenggarakan pendidikan ala pesantren ini relatif lebih murah sehingga lebih mudah dalam hal penyelenggaraannya dan bisa menghemat dana alokasi anggaran APBN untuk pendidikan.
Dari semua ulasan diatas, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya pendidikan ala pesantren ini bisa menjadi solusi dalam menanggulangi setiap problem di bangsa kita. Setidaknya itu pendapat saya. Bagaimana pendapat anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar