Pendidikan ala Pesantren?
Pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk menciptakan sebuah
peradaban. Di dalam pendidikan inilah cara pandang seseorang dalam melihat
sesuatu akan dibentuk hingga menciptakan suatu perilaku dan kebiasaan dalam
masyarakat dan akhirnya tercipta suatu kebudayaan yang bermuara pada peradaban.
Apabila kita meneliti dan menganalisa tentang bobrok dan rusaknya suatu
generasi, maka yang pasti menjadi titik permasalahan utama adalah pola
pendidikan yang salah. Pola pendidikan yang salah akan berimbas pada
rusaknya moral dan generasi suatu bangsa. Hal ini bisa kita buktikan dengan menelaah kembali latar belakang munculnya zaman kegelapan di Eropa pada abad pertengahan. Pada
saat itu, ilmu pengetahuan dan intelektual mengalami kemunduran akibat
keberadaan sikap fanatisme buta yang terlalu kuat dalam mempengaruhi pola pikir
masyarakat pada waktu itu. Pendidikan yang diberikan kepada warganya bersifat
fanatis buta sehingga tertutup terhadap pengembangan dan sangat menghambat
kemajuan.
Pendidikan di Indonesia sendiri menurut saya masih bisa dibilang belum
maksimal. Tentunya ada alasan kenapa saya berasumsi seperti itu. Yang paling
utama penyebab saya berasumsi seperti itu adalah hasil produk pendidikan kita
yang minim integritas. Berapa banyak lulusan perguruan tinggi ternama yang
tersandung dalam kasus korupsi. Kaum-kaum berdasi pengenyam pendidikan tinggi
di bangsa ini merupakan tersangka utama kenapa uang rakyat yang seharusnya menjadi menjadi modal untuk pengembangan pendidikan, ekonomi serta segala sesuatu yang
bisa dirasakan manfaatnya bagi rakyat "ludes" dicuri oleh segelintir orang yang kita anggap
mempunyai kecerdasan tinggi. Permasalahan korupsi yang seakan-akan tidak ada
habisnya ini menurut saya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pola
pendidikan kita selama ini mempunyai masalah yang cukup serius.
Berangkat dari permasalahan diatas, saya rasa solusi dari itu semua adalah
perbaikan dalam hal pendidikan. Kurikulum pendidikan telah bergonta-ganti dan
terus dicari formulasi terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita
tetapi belum ada yang dipastikan bisa mengubah mindset bangsa ini dalam
membentuk karakter bangsa yang berintegritas dan anti KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Sesungguhnya sederhana menurut saya untuk
bisa mengubah karakter bangsa ini menjadi bangsa yang berintegritas. Menukil pendapat dari Imam Ghazali di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin tentang penyebab rusaknya
rakyat di suatu bangsa, beliau menuliskan bahwa penyebab rusaknya rakyat adalah
disebabkan karena rusaknya penguasa, penyebab rusaknya penguasa adalah
disebabkan karena rusaknya cendekiawan dan para kaum intelektual, karena
seandainya bila kaum cendekiawan dan para intelektual itu baik, maka bisa
dipastikan penguasanya akan baik juga karena mereka akan takut akan
pengingkaran dari para cendekiwan dan intelektual tersebut karena tidak bisa
dipungkiri kaum cendekia dan intelektual mempunyai pengaruh di mata masyarakat
dan bisa menggerakkan rakyat apabila mereka menyatakan suatu pernyataan yang
tidak pro terhadap penguasa. Dan penyebab rusaknya kaum intelektual dan
cendekiawan adalah disebabkan karena cinta akan harta dan kedudukan duniawi.
Apabila kita mau meneliti lebih jauh, cinta akan harta dan kedudukan duniawi
hanya bisa hilang dengan nilai kezuhudan yang hanya bisa didapat melalui
pendidikan yang tepat dan baik. Dari pendapat Imam Ghazali diatas, kita bisa
mengambil kesimpulan bahwa penyebab dari rusaknya rakyat dan bangsa ini adalah karena sistem pendidikan kita yang belum tepat dan baik.
Berbicara mengenai peradaban dan pendidikan, maka saya tertarik dengan tema
Pesantren. Menurut pendapat saya, pendidikan ala Pesantren merupakan pendidikan
terbaik sejauh ini. Ada lima kelebihan Pendidikan ala Pesantren apabila saya
membaca di buku biografi singkat K.H. Hasyim Asy'ari yang ditulis oleh Muhammad
Rifa'i.
1. Sistem pemondokan (pengasramaan) yang memungkinkan pengawasan secara
intensif dari guru ke murid.
Di dalam pesantren kita mengetahui bahwa ada sistem yang dinamakan
"Pemondokan" yang mengharuskan murid untuk tinggal dan berkegiatan penuh dalam hal apapun itu di lingkungan pesantren. Hal ini bisa berdampak pada pemaksimalan
dalam hal mentransfer nilai-nilai kebaikan yang ingin dimasukkan ke dalam diri
dan karakter murid. Karena dengan sistem ini murid diharuskan untuk tinggal
selingkungan dengan gurunya sehingga murid bisa mencontoh dan meneladani
nilai-nilai kebaikan yang ada di dalam diri sang guru dengan melihat secara
langsung bagaimana sang guru menjalani kehidupannya sehari-hari. Tidak hanya
itu, guru juga bisa dengan mudah mengawasi para muridnya.
2. Keakraban para murid dan guru yang sangat kondusif bagi pemerolehan ilmu
pengetahuan.
Dalam kultur Pesantren, guru dan murid akan membentuk suatu lingkungan yang
kondusif bagi sistem pembelajaran dan transfer ilmu pengetahuan karena adanya
budaya ta'dzim (menghormati) dari murid ke sang guru sehingga tidak akan
mungkin seorang murid berani dan bertindak tidak sopan kepada gurunya dalam hal
apapun. Begitu juga sebaliknya, guru akan menyayangi dan mencintai muridnya
dengan sepenuh hati. Hal ini dibuktikan dengan adanya budaya yang terbentuk di
lingkungan pesantren berupa guru yang selalu mendoakan kesuksesan
murid-muridnya sehingga terciptalah pertalian batin yang kuat dari sang guru ke
murid.
3. Kemampuan pesantren
dalam mencetak lulusan yang memiliki kemandirian.
Berbeda dengan pendidikan non-pesantren yang dalam hal identifikasi
apakah murid itu bisa di cap sebagai murid yang berprestasi atau tidak berprestasi dan dinyatakan naik kelas atau tidak naik kelas maka
murid tersebut diharuskan mendapat nilai yang tinggi sehingga bisa mengalahkan
teman-temannya dalam hal akademik dan bisa mempertahankan nilainya untuk bisa naik kelas yang hanya beracuan pada angka semata. Sehingga hal
ini bisa memicu persaingan yang tidak sehat diantara para murid dan besar kemungkinan untuk para murid tersebut melakukan kecurangan-kecurangan agar bisa
mendapat nilai setinggi-tingginya demi tuntutan naik kelas atau ingin mendapat prestasi peringkat tertinggi. Hal ini mengajarkan pada diri murid untuk
menghalalkan segala cara dalam hal menggapai sesuatu dan juga mengajarkan akan
cinta kedudukan dan selalu mengidam-idamkan sanjungan karena prestise yang dia
dapat apabila bisa meraih peringkat tertinggi di kelas. Selain itu, sistem pendidikan
seperti ini akan menjatuhkan mental teman-temannya yang mendapatkan nilai
pas-pasan karena selalu minder dan merasa inferior sehingga bisa mematikan
potensi terpendam dari murid. Di dalam pesantren, sistem ranking seperti ini tidak akan mungkin terjadi karena apabila dia berprinsip pada nilai-nilai
keislaman, maka yang dinilai dari setiap murid bukan angka tetapi bagaimana
pengembangan dirinya di dalam pesantren. Dalam hal bagaimana cara menilai murid
itu berprestasi atau bukan, maka yang dilihat bukanlah angka, tetapi bagaimana
dia ketika lulus nanti terjun ke masyarakat. Apakah murid tersebut bisa membawa perubahan ke
arah kebaikan atau tidak. Ketika murid itu lulus dan pada waktu terjun ke masyarakat membawa dampak
kebaikan yang dapat dirasakan oleh banyak orang, maka disitulah murid itu baru bisa dibilang
berprestasi. Hal inilah yang menyebabkan lulusan pesantren memiliki kemandirian
dan bisa berdampak bagi kemajuan di masyarakat.
4. Keserhanaan pola
hidup di dalam pesantren
Di dalam pesantren, pola hidup sederhana merupakan hal yang tidak bisa
dipisahkan. Selain karena untuk menghemat pengeluaran, uang sisa biaya hidup bisa
digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat lainnya sehingga lebih efisien. Hal ini juga sengaja
dibentuk untuk melatih murid agar tidak hidup dengan gaya hedonisme sehingga sesuai dengan ulasan yang sudah kita bahas diatas yaitu penyebab utama rusaknya
rakyat adalah kecintaan kepada harta dan kedudukan duniawi.
5. Murahnya biaya penyelenggaraan
pendidikan pesantren.
Karena poin keempat yang sudah kita bahas di atas, maka bisa dibilang untuk
menyelenggarakan pendidikan ala pesantren ini relatif lebih murah sehingga lebih mudah dalam hal penyelenggaraannya dan bisa
menghemat dana alokasi anggaran APBN untuk pendidikan.
Dari semua ulasan diatas, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya pendidikan ala
pesantren ini bisa menjadi solusi dalam menanggulangi setiap problem di bangsa
kita. Setidaknya itu pendapat saya. Bagaimana pendapat anda?